Potensi Rugikan Negara PTPN IV Regional 2 Bukit Lima Diduga Abaikan Perawatan Lahan Hingga Terbengkalai

net24jam
11 Agu 2026 06:43
DAERAH KABAR 0 139
2 menit membaca

NET24JAM.ID || Simalungun.- Kondisi areal perkebunan kelapa sawit milik BUMN di PTPN IV Regional 2 Unit Bukit Lima, Kabupaten Simalungun, menjadi sorotan. Lahan Afdeling V Blok 75 Tanaman Tahun (TT) 2023 diduga tidak terawat dengan baik akibat pertumbuhan gulma yang masif dan menutupi tanaman utama.

Berdasarkan pantauan lapangan pada Kamis (6/8/2026), pertumbuhan bibit liar (tukulan) di lokasi tersebut ditemukan tumbuh subur hingga tingginya menyamai tanaman kelapa sawit utama. Selain itu, tanaman muda rimbun tertutup oleh tumbuhan merambat (rayutan). Secara teknis agrikultur, kondisi ini dapat menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan vegetatif tanaman.

Kondisi riil di lapangan tersebut dinilai berbanding terbalik dengan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). Program BUMN ini sejatinya mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan piringan dan pengendalian gulma. Hal ini memicu dugaan adanya ketidaksesuaian antara laporan realisasi anggaran penyiangan (manual maupun chemis) dengan fakta di areal Afdeling V.

Dok : tukulan kelapa.sawit setinggi tanaman utama dibiarkan tumbuh diareal Afdeling 5 blok 75 kebun Bukit Lima

Kelalaian perawatan ini diprediksi berdampak buruk pada aksesibilitas pemupukan, menyulitkan pengutipan brondolan, serta meningkatkan risiko serangan hama. Jika dibiarkan, kondisi aset negara yang rusak ini berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi perusahaan pelat merah tersebut.

Fungsi pengawasan dari Manajer Kebun dan Asisten Kepala (Askep) terhadap kinerja Asisten Afdeling V kini dipertanyakan. Desakan muncul agar Kantor Pusat Regional 2 atau Holding Perkebunan segera melakukan audit investigasi guna memeriksa validitas Laporan Kerja Harian (LKH) pembersihan lahan di unit tersebut.

Awak media telah melayangkan surat konfirmasi resmi kepada manajemen Kebun Bukit Lima untuk memberikan klarifikasi resmi. Namun, hingga berita ini ditayangkan, Selasa (11/8/2026) pihak manajemen setempat belum memberikan jawaban atau hak jawab terkait kondisi lahan tersebut. (Mariono)