NET24JAM.ID || Simalungun.- Pemasangan portal pembatas jalan di Simpang Mangga, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun mulai memukul sektor pariwisata lokal. Objek wisata pemandian alam legendaris, Kolam Swembat, kini sunyi senyap dari kunjungan wisatawan.
Pantauan langsung di lokasi pada Minggu (26/4/2026), tempat pemandian yang biasanya dipadati oleh ratusan pengunjung di akhir pekan ini tampak lengang. Tidak terlihat adanya keramaian aktivitas warga maupun wisatawan seperti hari – hari libur biasanya.
Masalah ini bermula saat Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Simalungun melakukan pemasangan portal pembatas jalan di kawasan Simpang Mangga pada hari kamis (23/4/2026) yang dinilai warga sangat mendadak.
Pemasangan ini langsung dikeluhkan karena dilakukan tanpa pemberitahuan matang. Pihak Dishub disebut tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada pengelola wisata Swembat maupun para pengusaha lokal yang menggunakan transportasi di jalur tersebut.
Akibat dari berdirinya portal pembatas jalan tersebut, akses kendaraan berukuran besar tidak bisa melintas. Begitu juga Bus pariwisata yang kerap membawa rombongan wisatawan berkapasitas besar kini tidak dapat lagi melintas untuk menuju lokasi wisata.
Para sopir angkutan umum maupun truk sangat menyayangkan kebijakan sepihak ini. Wisatawan disebut malas datang karena harus mengeluarkan uang yang sangat besar untuk menyewa mobil mini bus guna melansir agar bisa melewati portal sampai ke lokasi wisata. Jika terus dibiarkan, kawasan wisata Swembat terancam semakin sepi.
Penelusuran awak media di lokasi pada Minggu dampak kebijakan tersebut terlihat sangat nyata. Area parkir dan area santai Kolam Swembat tampak kosong melompong.
Pengelola Wisata Swembat, Ardi, mengeluhkan penurunan drastis ini. “Biasanya kalau hari Minggu seperti ini, sejak pagi loket tiket sudah antre dan area kolam sudah penuh oleh rombongan keluarga. Tapi hari ini sangat drastis penurunannya,” ujar Ardi. Ia menambahkan bahwa portal tersebut benar – benar memotong akses kendaraan besar dari luar daerah. Pihaknya berharap ada dispensasi khusus untuk jalur wisata agar ekonomi pengelola tidak mati.
Kondisi ini menjalar cepat ke para pelaku usaha mikro di sekitar lokasi. Sejumlah pedagang kecil mengeluhkan drastisnya penurunan omzet mereka sejak berdirinya portal tersebut. Siti (38), salah satu pedagang makanan di area wisata, mengaku dagangannya tidak laku hari ini. Pembeli yang datang ke lapaknya bahkan bisa dihitung dengan jari. “Biasanya hari Minggu begini modal jualan sudah balik sejak siang, sekarang untuk beli bahan besok saja belum tentu cukup. Kami rakyat kecil ini sangat bergantung pada ramainya pengunjung Swembat,” rintih Siti.
Hingga saat ini, warga dan pelaku usaha di Kecamatan Bandar Huluan masih berharap ada solusi cepat dari pemerintah setempat agar akses wisatawan tidak terhambat dan roda ekonomi kembali berputar.
Irwansyah Putra, Ketua Karang Taruna Bandar Huluan, menyingkapi pemasangan portal yang terkesan mendadak oleh Dishub tersebut. Ia mengatakan bahwa kebijakan ini harus segera dievaluasi demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak dan meminta pemerintah daerah segera membuka ruang dialog dengan masyarakat sekitar” harap putra. (Mariono)