Menu

Mode Gelap
Laporan Di SP3kan Keluarga Monang Samosir Prapidkan Penyidik Polres Dan Kejari Simalungun Plt. Bupati Labuhanbatu Saksikan Pagelaran Wayang Kulit di Hari Bhayangkara Sambut 1 Muharram 1446 H, BKM Nurul Islam Gelar Gotong-royong Kapolres Sergai Resmikan Sarana Air Bersih di Desa Makmur UNITA Taput Larang Mahasiswa Ikuti Aksi Demonstrasi

Berita Terkini · 29 Jun 2024 12:25 WIB · waktu baca : ·

Polda Pertanyakan Kasus Penipuan Mangkrak Ditangani Polrestabes Medan


 Polda Pertanyakan Kasus Penipuan Mangkrak Ditangani Polrestabes Medan Perbesar

NET24JAM.ID || MedanPolda Sumatera Utara (Sumut) akan angkat bicara terkait proses penyidikan sindikat kasus dugaan penipuan dan penggelapan bisnis online Rp600 juta dengan istilah Judul Kecil, atas nama Suriyani alias Li Hui pemilik mie dolar Acim di Jalan Bambu No 53, Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur Kota Medan Provinsi Sumatera Utara. 

Kapolda Sumut Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi melalui Kabid Humas Kombes Pol Hadi Wahyudi kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan pertanyakan proses penyidikan kasus tersebut ke Polrestabes Medan.

Hadi mengatakan bahwa apa permasalahan dan kendala dari penyidik Satreskrim Polrestabes Medan, sehingga BAP atas nama tersangka Suriyani terkait kasus ini masih belum lengkap. 

“Akan kita pertanyakan ke Kasat Reskrim dan Penyidik Reskrim Polrestabes Medan, proses penanganan kasusnya. Termasuk soal BAP dari tersangka yang belum juga lengkap,” ujar Hadi saat diwawancarai wartawan, Sabtu (29/6/2024).

Terkait hingga saat ini Suriyani alias Li Hui yang sudah ditetapkan tersangka namun belum ditahan, meskipun sebagai bagian dari sindikat penipuan dengan modus bisnis online, Hadi Wahyudi menjelaskan bahwa hal ini perlu ditanyakan kepada penyidik yang menangani kasus ini.

“Kita akan pertanyakan sama penyidik Satreskrim Polrestabes Medan yang menangani kasus ini,” ucapnya.

Kasus ini juga menarik perhatian Kapolrestabes Medan, di mana upaya penahanan terhadap tersangka dilakukan guna mencegah kemungkinan melarikan diri serta menghilangkan barang bukti.

Baca Juga:  Sinergitas Imigrasi Sibolga dan Timpora Amankan 7 Orang WNA

Dalam hal ini, Hadi Wahyudi menegaskan bahwa kasus penipuan dengan modus bisnis online harus menjadi perhatian serius baik oleh Polda Sumut maupun Polrestabes Medan. 

“Pasalnya, kasus ini telah merugikan banyak masyarakat,” pungkasnya.

Kronologi

Untuk diketahui, dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan bermula, saat korban Fitryah (40) warga Jalan Wahidin, Kecamatan Medan Area bertemu dengan tersangka Suriyani warga Jalan Bambu I No 53 Kelurahan Durian Kecamatan Medan Timur, di salah satu lokasi di Jalan Bambu I Medan.

Di pertemuan itu, tersangka Suriyani menawarkan bisnis online kepada korban (Fitryah), dengan iming-iming adanya keuntungan dengan syarat menyerahkan fotokopi KTP dan kartu kredit.

Atas tawaran tersangka Suriyani, korban tidak mau atau menolak. Dan tersangka kembali menawarkan atau merayu korban untuk bersedia menjalani bisnis online. Karena terus didesak oleh tersangka Suriyani. 

Akhirnya, korban menerima tawaran setelah tiga kali diminta atau dirayu. Dan pada 6 Desember 2017 di Jalan Zainul Airifn di salah satu gedung, korban (pelapor/Fitryah) ada menyerahkan kartu kredit dan fotokopi KTP kepada tersangka Suriyani.

Selanjutnya, tanpa seizin korban, tersangka Suriyani melakukan transaksi atau penarikan dana secara tunai (gesek tunai) dari kartu kredit korban ndi 2 toko sebesar Rp20 juta dan Rp15 juta. Besoknya, tersangka Suriyani kembali melakukan transaksi penarikan dana lagi secara tunai di 2 toko sebesar Rp10 juta. Mengetahui hal tersebut, korban merasa keberatan dan meminta tersangka Suryani untik mengembalikan kartu kredit miliknya, dan meminta mengembalikan dana penarikan tunai yang sudah dilakukan di beberapa toko.

Baca Juga:  Wow!! Presiden Jokowi Akan Dukung Putri Ariani Di Ajang America’s Got Talent

Permintaan korban ditolak oleh tersangka Suriyani. Dan sebaliknya tersangka kembali meyakinkan korban bahwa penarikan tunai dengan kartu kredit itu sebagai modal berbisnis online sesuai yang dijanjikannya. Dimana nantinya ada perhitungan dan keuntungan yang diterima korban. Berselang 2 minggu, tersangka kembali meminta barang korban untuk tambahan modal bisnis online, namun ditolak. 

Permintaannya ditolak, tersangka Suriyani mengatakan ia tidak bertanggung jawab atas kartu kredit yang sebelumnya sudah dilakukan penarikan tunai. Merasa takut, akhirnya korban menyerahkan kepada tersangka Suriyani berupa kartu kredit, uang ringgit Malaysia RM13.000. dolar singapura Sin $2.000 dan Cina Dolar RMB Yuan 10.000. 

Lalu Pada Maret 2018, tersangka kembali meminta tambahan modal dan seandainya korban tidak mau maka tagihan kartu kredit dan uang milik korban tidak akan diselesaikan. 

Alhasil, korban kembali menyerahkan tambahan modal kepada tersangka Suriyani berupa perhiasan Rantai dan mainan Liontin 25 gram, gelang tangan 20 gram, rantai tangan 30 gram dan 20 gram.

Pada April 2018 lalu, pihak bank menelpon tentang tagihan kartu kredit. Sehingga korban meminta kepada tersangka agar semua modal yang telah diserahkan untuk dikembalikan. Namun, tersangka Suriyani mengukur waktu hingga saat ini tidak mengembalikan semua barang milik korban. Tersangka sudah menggunakan kartu kredit yang diserahkan korban dan telah melakukan transaksi dana tunai di beberapa took, outlet dan travel perjalanan.

Baca Juga:  Asisten I: Peraturan Kesejahteraan Ibu dan Anak Perlu Dikuatkan dengan Undang-Undang Khusus

Korban Lakukan Prapid 

Merasa telah menjadi korban penipuan dan penggelapan, maka korban Fitryah melaporkan perbuatan Suryani ke Mapolrestabes Medan sesuai LP Nomor: STTLP/528/YAN.2.5/III/2019/SPKT RESTABES MEDAN tertanggal 08 Maret 2019. Atas laporan, pihak penyidik Satreskrim Polrestabes Medan melakukan penyelidikan dan penyidikan, namun LP korban sempat dihentikan penyidik.

Atas penghentian penyidikan itu, korban mengajukan permohonan Praperadilan (Prapid) ke Pengadilan Negeri Medan sesuai Nomor:3/Pid.Pra/2022/PN Medan. Hakim PN Medan memutuskan, mengabulkan permohonan praperadilan tersebut pada tanggal 25 Februari 2022. 

Selanjutnya, pada 26 Januari 2023, dengan hasil kesimpulan gelar perkara pihak kepolisian menyatakan terlapor Suriyani ditetapkan sebagai tersangka. Dan ini dikuatkan dengan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang ditujukan penyidik ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan pada tanggal 17 Februari 2023, dimana disebutkan pada 15 Maret 2019 dimulainya penyidikan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang terjadi pada 6 Desember 2017 oleh tersangka Suriyani. Kasus ini telah berjalan sejak tahun 2019.

(Rasyid)

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kapolres Serdang Bedagai Pimpin Apel Ops Patuh Toba 2024

15 Juli 2024 - 17:32 WIB

Polres Taput Laksanakan Apel Gelar Operasi Patuh Toba 2024.

15 Juli 2024 - 14:26 WIB

Partai Nasdem Resmi Dukung Pasangan Firsa-Efri Di Pilkada Kabupaten Muratara

15 Juli 2024 - 12:51 WIB

Media Nasional NET24JAM.ID Laksanakan ULTAH Yang Ke4 Tahun.

15 Juli 2024 - 00:18 WIB

DPD Tipikor Labuhanbatu Ucapkan Selamat ke-4 Tahun untuk NET24JAM.ID

14 Juli 2024 - 13:11 WIB

Lapas Medan Gelar Razia Deteksi Dini, Musnahkan Ratusan HP

12 Juli 2024 - 16:52 WIB

Trending di Berita Terkini