Menu

Mode Gelap
Terungkap 7 TKP Dalam Rekontruksi Pembunuhan Yang Digelar Polres Tanjungbalai Hindari Mecat dan Pelanggaran, Satlantas Polres Tanjung Balai Laksanakan KRYD Ciptakan Sitkamtibmas Yang Kondusif Kapolres Dairi Lounching Program Lapor Pak Kapolres Maraknya Galian C Ilegal Kredibilitas SDM PTPN IV Unit Kebun Balimbingan Di Pertanyakan Tangkap Pelaku Ekspor Minyak Goreng? BEM PTNU Apresiasi Langkah Polri

Tak Berkategori · 19 Sep 2021 05:49 WIB ·

Pengawal Menhub Cekik Leher Wartawan, Epza : Stop Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Pers


 Pengawal Menhub Cekik Leher Wartawan, Epza : Stop Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Pers Perbesar

Eka Putra Zakran, SH., MH.

Medan, NET24JAM.ID – Pengawal Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi diduga mencekik seorang wartawan Liputan6.com Ajang Nurdin, saat hendak mau melakukan wawancara ketika Budi Karya kunjungan kerja di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Kamis, 16 September 2021.

Kronologis kejadiannya saat itu dia hendak mewawancarai atau melakukan door stop Budi Karya Sumadi usai meninjau Rusun BP Batam.

Belum sempat mengajukan pertanyaan, dia langsung didorong pada bagian lehernya oleh salah satu ajudan Budi Karya Sumadi.

Menanggapi peristiwa tersebut pengamat hukum dan sosial Sumut Eka Putra Zakran, SH., MH., menyatakan bahwa semestinya tindak kekerasan tidak perlu terjadi.

“Sangat kita sesalkan jika ada tindakan kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan oleh petugas atau pengawal Menhub. Apakali rupanya yang dilakukan wartawan, sehingga pengawal Menhub tersebut sampai mencekik leher wartawan. Sudah gak benar tindakan pengawal Menhub itu,” ujar pria yang akrab disapa Epza ini, Minggu (19/9/2021).

Semestinya pengawal pejabat publik bersikap humanis, bukan anarkis. Mereka kan harusnya sudah terlatih, baik mental maupun spiritualnya dalam melakukan pengawalan. Jadi bekerjalah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada. Kalau anarkis berarti keluar dari SOP.

Dikatakannya, masa hari gini masih ada tindakan kekerasan terhadap jurnalis yang meliput. Harusnya bersinergi lah. Mereka para jurnalis juga dalam rangka menjalankan profesinya kan. Mereka dilindungi UU kok. Jadi pengawal Menhub tidak perlu melakukan tindak kekerasan. Arogan namanya itu.

‘Saya mengkritik gaya atau model pengawalan seperti itu. Hemat saya Menhub harus memberi teguran keras. Kalau belum berjiwa humanis, jangan diberi tugas kelapangan, di kader saja lah dulu itu, biar tidak melanggar SOP yang ada,” papar Epza.

“Pertanyaannya, sehat gak jiwanya itu? Saya karena alumni Magister Hukum Kesehatan, penting saya pertanyakan itu. Sebab kalau fisik sehat tapi psikis gak sehat, maka akan muncul sikap tempramental dan arogansi berlebihan, seolah merasa dia yang patennya. Nah, sifat ini gak bagus ada dalam diri pengawal atau petugas pejabat publik,” ujarnya lagi.

Epza menegaskan, jangan ada lagi tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap pers.

“Masa ada kekerasan saat peliputan terhadap kehadiran Menteri. Apa dianggap sampah profesi pers ini? itu yang buat kita geram gitu lho!! Maunya saling menghormati terhadap profesi masing-masing,” tegasnya.

(Ridwan)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Demi Kenyamanan Warga Polres Tanjung Balai Tugaskan Personil Jaga Lokasi Rekreasi

9 Mei 2022 - 00:58 WIB

Antisipasi Guantibmas, Polres Dairi Gelar Apel Kesiapan Pengamanan Malam Takbir.

1 Mei 2022 - 14:29 WIB

Jaga Situasi Aman Dan Kondusif, Sat Polairud Polres Tanjung Balai Gelar Patroli

25 April 2022 - 14:40 WIB

Pengurus Sub Rayon AMPI Kelurahan Karang Berombak Giat Bagi TakjilJelang Waktu Berbuka Puasa

25 April 2022 - 08:35 WIB

Proyek MCK TA Tahun 2021 Mangkrak, Kabid Perkim Janji Akan Tinjau Lokasi Proyek

19 Januari 2022 - 08:04 WIB

Unit Reskrim Polsekta Belawan Doorr Dua Residivis Rampok Yang Resahkan Warga

14 Januari 2022 - 04:19 WIB

Trending di Tak Berkategori