Menu

Mode Gelap
Idul Adha 1445 H, KSOP Utama Belawan Qurban 9 Ekor Lembu Danlanud Yohanis Kapiyau Timika Kerahkan Personel Sukseskan MTQ Terpampang Wajah 15 Oknum Polrestabes Medan Jadi Buronan Pimpinan DPRD Sumut Sebut JTP Tidak Melanggar Kode Etik Rayakan Idul Adha 1445 H Lapas Medan Potong Hewan Kurban

Artikel · 13 Okt 2022 02:24 WIB · waktu baca : ·

Ngeri! Inilah Misteri Kebun Tebu yang Terkenal Paling Keji di Indonesia


 Ngeri! Inilah Misteri Kebun Tebu yang Terkenal Paling Keji di Indonesia Perbesar

Rekonstruksi pembunuhan. (Foto : dok. ANTV)

Deli Serdang, NET24JAM – Istilah dukun atau perdukunan rasanya sudah familiar di tengah-tengah masyarakat kita. Dukun itu ada sejak adanya peradaban manusia.

Tradisi nenek moyang kita mayoritas mempercayai dukun sebagai penasehat dalam hidupnya. Dukun dianggap sebagai orang linuwih atau orang pintar. 

Dukun adalah profesi yang sangat populer di masyarakat waktu itu, bahkan sampai sekarang. Keterlibatan dukun dalam kehidupan masyarakat selama ini dinilai sangat dominan.

Terkait perdukunan, tentu sebagian masyarakat Indonesia khususnya di Sumatera Utara (Sumut) sudah pernah mendengar ataupun mengenal nama Dukun AS. 

Pengertian Dukun AS disini bukanlah Dukun Amerika Serikat, akan tetapi Dukun Ahmad Suradji alias Nasib Kelewang alias Datuk.

Dikutip dari berbagai sumber, Ahmad Suradji adalah seorang pelaku pembunuhan terhadap 42 orang wanita yang mayatnya dikuburkan di perkebunan tebu di Desa Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara dari tahun 1986 hingga 1997.

Ahmad Suradji terlahir pada 10 Januari 1949, Nama aslinya adalah Nasib. Karena sering menggunakan kelewang saat melakukan pencurian lembu di kawasan Stabat, ia pun dipanggil Nasib Kelewang oleh teman-temannya.

Sedangkan nama Ahmad Suradji disandangnya setelah keluar dari penjara karena tersandung kasus pencurian lembu. 

Kemudian, nama Datuk diberikan teman-temannya karena ia menikahi tiga kakak beradik kandung dan tinggal serumah.

Sehari-hari Suradji bekerja sebagai petani. Ia hanya lulus SD dan mempunyai tiga orang istri dan sembilan anak. Pihak kepolisian pertama kali menemukan mayat salah seorang korban pada 27 April 1997, seorang wanita berusia 21 tahun bernama Sri Kemala Dewi. 

Seminggu kemudian, seorang saksi mengatakan bahwa pada hari Dewi menghilang, ia telah mengantarkan Dewi ke tempat tinggal Suradji. Polisi kemudian menemukan setumpuk pakaian dan perhiasan wanita di situ, diantaranya barang-barang milik Dewi. Suradji pun ditangkap.

Ada sumber-sumber yang menyebut bahwa ia tidak mau mengaku, namun ada pula yang menyatakan bahwa ia telah mengakui perbuatannya. 

Dalam sebuah laporan, Suradji mengaku membunuh karena hendak menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya. 

Ia juga mengakui agar ilmunya sempurna, ia harus membunuh 70 orang wanita dan menghisap air liur korban. Ilmu ini sendiri ia dapati dari ayahnya saat ia masih berusia 12 tahun, meskipun perhatiannya terhadap ilmu tersebut baru mulai terasa saat ia mencapai usia 20 tahun.

Baca Juga:  Kapolres Dairi Bersama Ketua Cabang Bhayangkari Dairi Berbagi Nasi Kotak serta Takjil Untuk Berbuka Puasa

Kronologis Kejadian 

Dari hasil penyelidikan polisi, semua korban merupakan pasien yang datang ke rumah Suradji di Dusun Aman Damai. Semua perempuan itu ingin mendapatkan ilmu pengasihan atau penglaris dari Suradji. 

Ia meminta setiap kliennya yang datang membawa kembang telon, kemenyan putih, kemenyan arab (buhur), dan sepasang jeruk purut.

Syarat lainnya, harus bersedia diikat dan dikubur setengah badan di tempat yang sunyi pada malam hari. Syarat lainnya, pasien tak boleh memberitahukan ritual itu kepada orang lain. 

Korban pertama Suradji adalah perempuan bernama Tukiyem alias Iyem. Korban datang ke rumah Suradji pada Desember 1986 pukul 18.00 Wib.

Iyem ingin mendapatkan kesuksesan hidup dari Suradji. Setelah Iyem mengutarakan maksudnya, dukun itu mengajaknya ke area perkebunan tebu Sei Semayang, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Saat keluar, Suradji membawa cangkul, tali, dan karung. Sedangkan Iyem membuntutinya di belakang.

Langkah mereka terhenti setelah menemukan lokasi yang cocok untuk ritual ilmu pengasihan itu. Suradji meminta Iyem memegang senter untuk menerangi tanah yang bakal digalinya. 

Suradji menggali lubang sedalam 1 meter. Panjang lubang sekitar 1 meter dan lebar 70 centimeter. Karena biasa mencangkul, tak butuh lama bagi Suradji untuk membuat lubang seukuran itu.

Suradji lalu meminta Iyem masuk ke lubang. Kedua kaki dan tangan Iyem diikat tali sambil berdiri. Setelah itu, Suradji naik, lalu menguruk lagi lubang dengan tanah. Tubuh Iyem terkubur mulai kaki hingga dadanya. Sejurus kemudian, Suradji jongkok di hadapan Iyem.

Suradji menyandarkan kepala Tukiyem di atas paha kakinya. Tiba-tiba, tangan kiri Suradji menutup mulut dan hidung wanita itu. Sedangkan tangan kanannya mencekik leher Iyem. 

Praktis, korban tak bisa berontak karena hampir seluruh badannya sudah terkubur di dalam tanah. Dalam hitungan menit, nyawa Iyem pun melayang, meninggal seketika di tempat itu.

Suradji melakukan ritual lain dengan air liur korban yang sudah tidak bisa bergerak. Setelah itu, tubuh korban diangkat kembali. Ia membuka ikatan tali di kaki dan tangan Iyem, membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang. 

Baca Juga:  Cegah Bentrok Antar Serikat Pekerja, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Gelar Mediasi

Lalu, Suradji menguburkan kembali korbannya di tempat itu juga. Esok paginya, Suradji beraktivitas seperti biasa, bertani. Seolah-olah tak ada kejadian apa pun. Ia bergaul seperti biasa dengan tetangganya.

Motif dan pola pembunuhan yang sama dilakukan Suradji terhadap korban-korban berikutnya. Korban kedua Suradji bernama Yusniar alias Niar, yang dibunuh pada sekitar Maret 1987. 

Korban ketiga adalah seorang perempuan bernama Tomblok sekitar tahun 1988. Lalu korban lainnya di antaranya adalah Rusmina alias Popi pada Agustus 1989, Diduk dan Rusmiani alias Anis korban (Juni 1992), Sulianti alias Yanti (Juni 1992), Irdayanti (28 Oktober 1992), Sadiem (17 Desember 1992), dam Kunyil (Januari 1993). Seluruhnya diketahui ada 42 perempuan yang telah dibunuh secara keji oleh Suradji.

Polisi Ungkap Kekejian Ahmad Suradji 

Korban terakhir Suradji bernama Sri Kemala Dewi, yang dibunuh pada 23 April 1997. Dari kasus inilah kebiadabannya terbongkar. 

Empat hari setelah pembunuhan, warga Dusun Aman Damai dibuat geger ketika seorang pemuda menemukan mayat tanpa busana di ladang tebu. 

Mereka terkejut ternyata mayat itu adalah Dewi, yang dikabarkan menghilang tiga hari sebelumnya. Pihak Kepolisian khususnya Polsek Sunggal menurunkan tim untuk menyelidikinya. 

Awalnya polisi mencurigai Tumin, mantan suami Dewi, karena keduanya sering bertengkar. Tapi polisi tak cukup banyak bukti. Pada satu kesempatan, polisi mendapatkan secercah petunjuk baru. Seorang warga bernama Andreas mengaku sempat mengantarkan Dewi ke rumah Suradji untuk berkonsultasi sebelum dikabarkan hilang.

Polisi kemudian mendatangi rumah Suradji. Pria itu mengakui Dewi memang pernah datang ke rumahnya. Namun, selepas Magrib, Dewi pulang ke rumahnya sendiri. 

Karena tak cukup bukti, polisi menghentikan penyelidikan. Polisi mendalami sejumlah laporan orang hilang dalam beberapa tahun terakhir.

Ternyata, dari sekian banyak orang yang dilaporkan hilang itu, terdapat satu benang merah. Kebanyakan dari mereka merupakan pasien Suradji. Polisi pun lalu menggeledah rumah Suradji. 

Di sana ditemukan sejumlah pakaian dan perhiasan perempuan, salah satunya milik Dewi. Suradji beserta ketiga istrinya pun ditangkap, yaitu Tumini, Tuminah, dan Ngatiyah.

Baca Juga:  Kapolres Toba Hadiri Pelepasan 8 Calon Jemaah Haji Ketanah Suci

Lewat proses interogasi yang panjang, akhirnya muncul pengakuan dari mulut Suradji. Dia mengaku membunuh Dewi. Polisi tidak berhenti di situ. Suradji didesak terus. 

Dari yang semula hanya mengaku membunuh Dewi, Suradji akhirnya mengaku telah membunuh 16 perempuan. Hingga kemudian ia mengaku lagi telah membunuh 42 wanita. Hal itu membuat polisi terperangah.

Bahkan Suradji mengaku menerima bisikan gaib untuk membunuh 72 perempuan. Istri tertua Suradji, yakni Tumini, ikut membantu perbuatan suaminya. Suradji dan Tumini akhirnya mendekam di penjara.

Akhir Perjalanan Sang Dukun AS

Suradji disidangkan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Sumut, pada 22 Desember 1997. Masyarakat berbondong-bondong menonton jalannya sidang. 

Dikarenakan banyaknya pengunjung, pihak Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menyiapkan tenda besar serta empat televisi monitor bagi pengunjung yang tak kebagian tempat duduk di ruang sidang. Sidang pun dijaga empat peleton polisi.

Dalam persidangan, Suradji menolak laporan berita acara pemeriksaan polisi. Dia membantah tudingan telah membunuh 42 wanita. 

Pengakuan bahwa dirinya telah membunuh 42 wanita disebabkan oleh paksaan selama proses interogasi. Tumini, yang bersekutu dengan Suradji, pun membantahnya. Semua tuduhan jaksa dianggap sebagai kebohongan besar.

Persidangan pun berlangsung alot dan dilakukan maraton. Hakim berkeyakinan lain. Hakim yang diketuai Haogoaro Harefa menjatuhkan putusan pada 27 April 1998 dan menghukum Suradji dengan hukuman mati. Putusan hakim di tingkat banding dan kasasi tidak mengubah hukuman mati Ahmad Suradji itu.

Sementara itu, Tumini divonis penjara seumur hidup. Suradji dan Tumini dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tanjung Gusta, Medan. 

Suradji mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Megawati Soekarnoputri pada Agustus 2004. Baru pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, permohonan itu dijawab dan ditolak.

Menjelang pelaksanaan hukuman mati, Suradji mengajukan permohonan terakhir ke pengadilan untuk bertemu dengan keluarganya, termasuk Tumini.

Ahmad Suradji dieksekusi pada Kamis 10 Juli 2008 yang lalu, tepatnya pukul 22.00 Wib oleh tim eksekusi Brimob Polda Sumatera Utara. Kasus Dukun AS ini diangkat menjadi sebuah film dengan judul Misteri Kebun Tebu.

Editor    : Ridwan

Sumber : Wikipedia – detik 

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Turnamen Olahraga Piala Kapolres Sergai Meriahkan Hari Bhayangkara ke-78

19 Juni 2024 - 20:30 WIB

Idul Adha 1445 H, KSOP Utama Belawan Qurban 9 Ekor Lembu

19 Juni 2024 - 19:07 WIB

Danlanud Yohanis Kapiyau Timika Kerahkan Personel Sukseskan MTQ

19 Juni 2024 - 12:43 WIB

Terpampang Wajah 15 Oknum Polrestabes Medan Jadi Buronan

19 Juni 2024 - 12:02 WIB

Pimpinan DPRD Sumut Sebut JTP Tidak Melanggar Kode Etik

19 Juni 2024 - 10:44 WIB

Plt Bupati Labuhanbatu Sholat Idul Adha di Lapangan Ikabina Rantauprapat

18 Juni 2024 - 11:24 WIB

Trending di Berita Terkini