Menu

Mode Gelap
Bongkar Toko Ponsel, Pencuri Ini Naas Didepan SPBU Brohol Lurah Bersama Warga Kelurahan Bagelen Laksanakan Gotong Royong Nasib Sinurat Terpilih Jadi Ketua PAC Pemuda Pancasila Bandar Huluan Bobol Rumah Warga Tebing Tinggi, Pria Asal Sergai Diringkus Polisi Bupati Labuhanbatu Tinjau DAS Dua Desa di Kecamatan Pangkatan

Artikel · 17 Feb 2023 20:40 WIB · waktu baca : ·

Jelang Runtuhnya Firaunisme Kecamatan Diterpa Badai Kehancuran


 Jelang Runtuhnya Firaunisme Kecamatan Diterpa Badai Kehancuran Perbesar

Gambar ilustrasi Firaunisme.

NET24JAM – Firaun telah tiada jauh sebelum zaman ini, akan tetapi Firaunisme tetap ada dan hidup pada zaman sekarang bahkan hingga akhir zaman.

Sejak Iblis menyebarkan dan menularkan sikap kesombongannya kepada anak cucu Adam, termasuk Firaunisme. Menjadi pertentangan konflik kemanusiaan tak berkesudahan.

Sebuah ironi masif dirasakan penulis, paham-paham penguasa arogan dengan kesombongannya ala firaunisme saat ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat di Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

Perbedaan pendapat terkait prinsip yang dianut secara privat, semakin menempati ruang publik secara bebas, bahkan mengenai terampasnya hak-hak masyarakat seolah-olah menjadikan pengikut penguasa bergaya firaunisme telah memberi kesan wajar tanpa syarat.

Sehingga perubahan sosial kultur kebersamaan masyarakat, akhir-akhir ini seakan terusik oleh kebisingan dan ketidaknyamanan subjek penguasa kecamatan yang dimiliki masing-masing pengikutnya. 

Seperti halnya, pengikut penguasa firaunisme terusik dan terganggu oleh dialog hak-hak masyarakat dalam sistem pemerintahannya yang arogan serta menindas rakyatnya.

Baca Juga:  Menolak Lupa! 7 Tragedi Pelanggaran HAM Berat di Indonesia Tanpa Keadilan

Kekecewaan firaunisme kecamatan,  marah tersinggung kepada sekelompok orang yang memperjuangkan hak-hak masyarakat. Kemudian, mempersekusi pemberitaan-pemberitaan yang menyuarakan aspirasi masyarakat tertindas dan memutar balikkan fakta seakan-akan berita itu hoaks. 

Penulis dengan berbagai perspektif di tengah-tengah masyarakat di Kecamatan Labuhan Deli dapat menarik kesimpulan, bahwa arus besar setiap memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas, diawali banyak pertentangan dan kondisi berlawanan antar pendukung firaunisme dan antitesisnya, merupakan proses dialektika, penyempurnaan panggung kehidupan.

Apalagi kini penguasa kecamatan telah dirasuki oleh roh-roh firaunisme yang menggunakan agama dalam politik demi tujuan kekuasaan. 

Firaunisme menjadi suatu hantu bagi demokrasi di Indonesia yang telah menjangkiti penguasa kecamatan. Sangat menyedihkan lagi mengingat firaunisme tersebut telah menurun kepada masyarakat biasa yang tidak mengerti birokrasi dan politik. 

Masyarakat biasa yang taat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, malah dimanfaatkan ketaatannya oleh firaunisme yang berselimutkan nuansa keagamaan. 

Baca Juga:  Depan Istri dan Anaknya!! Faris Tewas Usai Ditikam Secara Tragis

Jika rakyat (masyarakat) terus dibutakan oleh firaunisme ini, maka demokrasi kita akan jadi tidak bermakna, karena rakyat adalah penguasa dalam sistem justru dikekang akal dan hatinya untuk mendapatkan hak-haknya.

Dalam hal ini, penulis menafsirkan ada beberapa ciri-ciri model penguasa firaunisme, yaitu :

Pertama, Berbuat sewenang-wenang dan tidak konsekuen dengan ketentuan yang dibuatnya sendiri.

Kedua, Memecah belah masyarakat, sehingga tidak ada persatuan, yang ada justru terjadi permusuhan antara satu orang dengan orang lain ataupun satu kelompok dengan kelompok lain, sehingga konflik terus berkepanjangan.

Ketiga, Memerangi orang ataupun kelompok yang tidak disukainya, karena menghambat kezaliman yang dilakukannya. Padahal, semakin dia zalim semakin nampak kebodohannya.

Keempat, Melakukan kerusakan, baik merusak lingkungan hidup maupun merusak peradaban masyarakatnya.

Kita tentu tidak ingin pemimpin berubah menjadi penguasa yang menggerogoti hak-hak masyarakatnya.

Baca Juga:  KRI FKO 368 Gagalkan Serangan Asimetris

Penguasa yang telah dihinggapi sifat firaunisme saat berkuasa dihinggapi sifat kesombongan yang diantaranya, dicirikan dengan sifat merasa benar sendiri, dan menolak kebenaran.

Kesombongan penguasa kecamatan model firaunisme itu akhirnya menjadi latar penyebab runtuhnya kekuasaan mereka diterpa badai kehancuran.

Demikianlah hukum kekuasaan yang zalim tidak akan bisa bertahan lama. Akan ada counter partnya. Seperti kisah Firaun akan dihadapi oleh Musa dan Harun, Namrut oleh Ibrahim hingga pasukan Thalud (Nabi Daud) yang dianggap lemah menaklukkan pasukan jalut (Raksasa Kuat), yang akhirnya berujung pada kehancuran penguasa zalim.

Jika kebatilan sudah berhadapan dengan kebenaran, cepat atau lambat, kebenaran pasti keluar sebagai pemenangnya. 

Di penghujung artikel, penulis berpesan, janganlah ragu memperjuangkan dan berjuang bersama orang-orang yang benar. Karena kebenaran itu pasti datangnya dari Tuhanmu dan jangan menjadi orang yang ragu atas kebenaran itu.

Penulis : Ridwan.

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bongkar Toko Ponsel, Pencuri Ini Naas Didepan SPBU Brohol

10 Desember 2023 - 21:26 WIB

Lurah Bersama Warga Kelurahan Bagelen Laksanakan Gotong Royong

10 Desember 2023 - 18:21 WIB

Nasib Sinurat Terpilih Jadi Ketua PAC Pemuda Pancasila Bandar Huluan

10 Desember 2023 - 15:47 WIB

Nasib Sinurat Terpilih Menjadi Ketua PAC Bandar Huluan

10 Desember 2023 - 15:16 WIB

Bobol Rumah Warga Tebing Tinggi, Pria Asal Sergai Diringkus Polisi

10 Desember 2023 - 13:24 WIB

Bupati Labuhanbatu Tinjau DAS Dua Desa di Kecamatan Pangkatan

10 Desember 2023 - 12:58 WIB

Trending di Berita Daerah