Menu

Mode Gelap
Pemerintah Tegaskan Berantas Judi Online, Satgas Akan Segera Dibentuk! Petugas Rutan Kelas I Medan Gagalkan Penyelundupan Narkoba Asisten 3 Pimpin Rapat Penyusunan SSH Tahun Anggaran 2024 Lapas Medan Terima Kunjungan Peserta Bimtek Giat Kerja dan Produksi 2024 MTs Al Washliyah Bahgunung Gelar Wisuda Tahfidz Al Qur’an

Artikel · 8 Apr 2024 13:54 WIB · waktu baca : ·

Indonesia Tidak Siap Punya Pemimpin Sehebat Jokowi


 Indonesia Tidak Siap Punya Pemimpin Sehebat Jokowi Perbesar

NET24JAM.IDKita harus akui bahwa Indonesia tidak siap punya pemimpin sehebat Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tidak siap secara mental dan tidak siap secara politis. 

Politisi kita tidak siap, pers kita tidak siap, para aktivis kita tidak siap, bahkan kalangan seniman dan budayawan yang kita anggap berwawasan luas dan punya perspektif kemanusiaan yang jernih juga tidak siap. 

Politisi kita kaget dan melihat hadirnya figur Jokowi sebagai fenomena yang langka di dunia perpolitikan Indonesia. 

Politik itu kotor, tapi kenapa ada politisi bersih yang bisa masuk gelanggang? Jadi teringat istilah dari Bambang Pacul yang mengatakan “Jokowi ini korea jenis yang berbeda mungkin korea hibrida”. 

Pers dan media kita tidak siap, dan cenderung menjadi kikuk dengan hadirnya pemimpin seperti Presiden Joko Widodo. Kalangan pers yang punya jargon bad news maupun good news menjadi bingung menjual berita mereka. 

Sebagian kalangan pers dan media bingung karena menulis berita tentang Jokowi isinya baik semua. Padahal berita baik tidak menjual, lalu bagaimana mau untung? Kalau sudah begitu mau tidak mau media harus membuat pilihan yakni jadi juru berita pesanan atau menyulap berita baik menjadi seburuk-buruknya.

Para aktivis juga tidak siap menghadapi pemimpin sehebat Presiden Jokowi. Aktivis tugasnya mengkritisi, namun kalau bahan yang dikritisi tidak cukup untuk dikritisi lah mau mengkritisi apanya? Alhasil, oknum-oknum yang mengaku aktivis melayani jasa kritik dan demo pesanan saja. Ini aktivis atau hiperaktivis sih?

Baca Juga:  Bobol Rumah Warga Tebing Tinggi, Pria Asal Sergai Diringkus Polisi

Enggak perlu demo kenapa harus demo? Kalau aktivis jalanan melayani pesanan mungkin masih masuk akal. Lah, ini aktivisnya mahasiswa. Sedangkan mahasiswa itu kan kelompok yang sama-sama kita tahu memiliki kualitas dan latar belakang pendidikan yang lebih baik. Kalau akhirnya melayani pesanan, atau yang sering sebutan candaan dengan istilah maha sewa, lah ilmiahnya dimana? 

Seniman dan budayawan kita tidak kalah kalang kabutnya ketemu sosok pemimpin seperti Jokowi. Grup teater yang biasa mengolok-olok pemimpin korup, jadi tidak punya bahan untuk dijadikan naskah pertunjukan. 

Era Presiden Soeharto, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih banyak bahan. Lalu, di era Presiden Jokowi ibarat sumur airnya kosong tidak bisa ditimba. 

Tak jarang ada beranggapan bahwa Jokowi menjadi sumber paceklik seniman-seniman yang cari makan dengan sindiran-sindiran dan kritikan-kritikan. Ide mereka mampet ketemu Presiden sebersih Jokowi. 

Padahal seniman masih bisa makan dengan membuat atraksi dengan menampilkan bakat-bakat yang hebat. Tapi maaf, jangan-jangan kebanyakan seniman kita aslinya tidak punya bakat. 

Lah, apa bedanya dengan aktivis jalanan yang sesuai pesanan? 

Di kalangan budayawan yang seringkali disusupi rohaniawan, punya pemimpin seperti Jokowi ini banyak bikin mereka kaget-kagetan. 

Revolusi mental yang dijalankan Presiden Jokowi seperti mengambil alih pekerjaan mereka. Meski banyak yang mengklaim revolusi mental tidak berhasil tapi kenyataannya kita bisa lihat sendiri di masyarakat telah terjadi perubahan perilaku dan sikap yang cukup menonjol, semua itu mengarah pada aspek mental. 

Baca Juga:  Begini Kecanggihan Instalasi Medis Milik TNI dalam KTT AIS Forum 2023

Kita bisa lihat bagaimana pembangunan infrastruktur juga berjalan sejajar dengan gaya hidup masyarakat kita. Para pengguna moda transportasi umum sudah mulai tertib menggunakan fasilitas. Ketaatan membayar pajak juga telah meningkat, kepatuhan terhadap peraturan sudah semakin membaik, toleransi beragama pun meningkat, kecintaan terhadap budaya dan produk lokal juga jauh lebih baik. 

Tanpa sadar, budayawan dan rohaniawan kita mulai kurang kerjaan dan seharusnya mereka bahagia terhadap kemajuan bangsa Indonesia. 

Tapi seperti yang kita lihat belakang ini budayawan dan rohaniawan ikut rame-rame menyudutkan Presiden Jokowi. Apa karena mata pencaharian mereka berkurang? Atau mereka sudah menjadi budayawan dan rohaniawan sesuai pesanan? 

Walaupun demikian, ketidaksiapan itu tidak berlaku bagi rakyat atau kelompok awam yang memang sangat merindukan sosok pemimpin seperti Presiden Jokowi. 

Sejak Presiden Jokowi menjabat di tahun 2014 sampai hari ini, kepercayaan kebanggaan dan rasa cinta rakyat Indonesia kepada pemerintah terutama presidennya sangatlah tinggi. 

Rating approval hingga tahun 2024 masih diatas 70 persen, hal ini belum pernah terjadi pada presiden-presiden sebelumnya. 

Kalau kita lihat di media saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke berbagai daerah maupun luar negeri, kita melihat masyarakat dengan tulus mengekspresikan kecintaannya kepada Presiden Jokowi. 

Baca Juga:  Bungkamnya Penegak Hukum Mengungkap Mafia Tanah Desa Helvetia

Namun, fakta itu mau disangkal dan digerus oleh kelompok yang ingin merebut estafet kepemimpinan secara paksa, karena mereka tidak paham kepercayaan itu tidak bisa diambil dari rakyat. 

Presiden Jokowi telah bekerja sangat keras untuk memajukan bangsa ini, jejak itu jelas tidak akan pernah bisa dihapus bahkan oleh fitnah yang paling menyakitkan. 

Apakah Indonesia tidak akan pernah siap untuk menjadi bangsa yang hebat? Karena dipimpin oleh seorang presiden yang hebat. Semestinya tidak, kalau kita semua mau mengedepankan kecerdasan berpikir.

Indonesia yang dulu bernama Nusantara pernah menjadi bangsa yang besar dimata dunia. Lalu, sekarang ini kita ingin dibangkitkan kembali menjadi jauh lebih besar lagi. 

Tapi hanya disebabkan segelintir orang yang merasa dirugikan karena kehilangan nafkah dan kekuasaannya lalu menghasut kita untuk melawan kebangkitan itu, apakah kita mau mengikuti segelintir orang tersebut? 

Hanya mereka yang tidak peduli pada kedaulatan bangsa dan negara yang tidak ingin Indonesia menjadi hebat. Hanya mereka yang tidak bisa berbuat sesuka hati yang tidak siap memiliki pemimpin yang hebat dan mereka itu sesungguhnya tidak banyak jumlahnya.

Kalau rakyat berdaulat maka mereka hanya bagaikan beberapa ekor lalat yang dengan mudah bisa di sikat, semoga artikel ini bermanfaat. 

Penulis  : Ridwan Fahlevi. 

Sumber : Aufklarung 1972. 

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wakil Rakyat : Si Wakil Makan Enak, Rakyatnya Kesusahan

2 Januari 2024 - 00:26 WIB

Kejahatan Kerah Berseragam Lindungi Judi Togel di Simalungun

21 November 2023 - 13:14 WIB

Fenomena Mentor Lato-lato Politik dan Buzzer Rp Menjelang Pemilu

17 November 2023 - 00:40 WIB

Dampak Ekonomi di Tengah Konflik Israel-Palestina

12 November 2023 - 00:34 WIB

Polemik Putusan MK Diantara Dissenting Opinion dan Politis

21 Oktober 2023 - 15:30 WIB

Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah

16 Oktober 2023 - 01:45 WIB

Trending di Artikel